Merbabu, Kau begitu sempurna

“Naik gunung yok?” … ” Gasss bang.”…….
Hanya sesederhana itu percakapan yang muncul di sepulangnya ibadah gereja hari minggu, bersama adek2 naposo hkbp solo.
+/- 2 minggu kemudian, terealisasilah percakapan yang hanya sepenggal itu.
Bentuk grup line, ngumpul sehari sebelum pendakian, kumpulkan teman2 yang ingin ikut, jadilah mendaki dengan tim 11 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

Jumat sore (27 april 2018) , kami berkumpul, dan malamnya sekitar jam 22.00 kami berangkat dari solo menggunakan 7 motor.
Perjalanan menempuh waktu 3 jam dengan kecepatan rata-rata 40km/jam. Namun ada sedikit kendala ketika kami sudah memasuki area badan gunung merbabu, ternyata track jalan raya nya sangat menukik tajam dan mempunyai kemiringan lebih dari 8%, dengan panjang jalan yang melebihi kapasitas rancangan jalan yang disyaratkan (SNI), alhasil, 2 motor rombongan (Matic) tak bisa naik ke atas, kebetulan saya dan seorang teman yang mengalaminya. Fiuhhh. Jadilah saya turun dan menunggu teman yang membawa motor kopling untuk menjemput kembali setelah menurunkan seorang yang diboncengnya. Begitulah kira-kira ada 3 rit bolak balik naik turun motor kopling untuk menjemput kami yang menggunakan motor matic. Jadi saya sarankan kepada teman-teman yang ingin mendaki merbabu via selo, janganlah menggunakan motor matic (apalagi kalau berboncengan), sangan disarankan menggunakan motor sehat dan menggunakan kopling.

Jam 01.00 WIB, kami sampai di basecamp pendakian, ternyata suhu nya sangat dingin saudara-saudara, mungkin +/- 12 C, dengan ketinggian 1836 MDPL.
Istirahat sejenak, bermalam di basecamp mengumpulkan tenaga untuk melakukan perjalan esok hari.
Bangun pagi, kira-kira jam 06.00 WIB, dengan suhu yang ternyata gak naik-naik, kami mulai persiapan, dan memesan sarapan pagi, sembari bersih-bersih, cuci muka, dsb.
Lebih kurang jam 08.30, kami mulai start dari basecamp, dan memulai pendakian .
Pendakian merbabu via selo, mempunyai 5 pos ; Pos 1, Pos 2 , Pos 3, Sabana 1, sabana 2, dan Puncak Merbabu.
Jalur Selo adalah jalur teraman untuk mendaki merbabu, tapi tetap harus diperhatikan persiapan logistik , karena tidak ada sama sekali sumber air di jalur ini.
Jadi , Berat isi carrier, 75% adalah air.
Lama waktu pendakian, dari pos 1 sampai Sabana 2, kira-kira 8 jam dengan pendakian yang santai.
Dan Di sabana 2 kami memutuskan untuk mendirikan kemah, karena di tempat ini yang paling dekat dan aman untuk mendirikan tenda peristirahatan.
Dari Sabana 2 ke Puncak, kami harus kembali mendaki keesokan harinya pukul 04.00 WIB dengan suhu yang lebih ekstrem lagi, Mungkin kurang dari 10 C, dan oksigen tidak sama lagi dengan ketinggian normal .
Lama waktu pendakian dari Sabana 2 ke Puncak kira-kira 2 jam, dengan jalur yang sangat menguras tenaga menurut saya. Dengan sudut kira-kira 40-70 derajat.
Dannn hari Minggu (29 April 2018), kami bersama 8 orang lainnya berhasil mencapai puncak Merbabu. 4 orang lainnya memilih istirahat di tenda karena memang kebetulan mereka sudah pernah mendaki merbabu sebelumnya.

 

Iklan

Arogansi – karena lebih tahu?

Terkadang kita menganggap bahwa kemampuan kita, lebih daripada atasan kita, lantas kita menjadi arogan?
Saya rasa ini adalah masalah attitude. Saya sering merasa seperti ini di pekerjaan saya. Jujur, saya sering tidak sadar. Sampai saya merasakan bahwa perbuatan saya tidak layak untuk ditiru.
Bagaimanapun di dalam suatu hirarki, atasan tetaplah atasan. Menghormati adalah hal mutlak diperlukan untuk menjalankan gerbong.
Ketika rasa menghormati itu hilang, maka gerbong berjalan tidak sempurna, ada tarik ulur di dalamnya.
Lebih baik kita ngomong langsung, berikan masukan atau saran untuk membangun. Bukan menjadi arogan karena merasa kita lebih tau atau lebih hebat daripada partner atau atasan kita.
Attitude, menjadi hal mutlak yang terpenting dalam dunia kerja. Terkhusus dalam tim.
Dan saya masih belajar untuk ini, karena saya merasa sangat amburadul.  🙂

Segoro Gunung, Puncak Paralayang Karanganyar

Buat kalian warga solo dan sekitarnya yang ingin mencoba olahraga paralayang, Segoro gunung adalah tempatnya.
Terletak tak jauh dari terminal kemuning, naik sekitar 500 m ke atas, maka kita akan disuguhkan pemandangan yang uapiiikkkk tenan.
Untuk mencoba paralayang sendiri saya belum pernah, alias belum berani. Wakakka. Ngerii coy.
Tapi one day, gw bakal nyobain (Fix gw bakal nyobain).
Back… Jadi ceritanya 2 hari kemarin, cuaca di proyek, puanasnya luar biasa. Sampai pusing ini kepala. Jadilah saya tidur sebentar, bangun-bangun sudah jam setengah 5 sore. Buka pintu, ternyata matahari masih menampakkan wujudnya. Karena dah pengalaman, saya tau bahwa matahari ini akan menghasilkan sunset, maka buru2 saya mandi, pakai sendal gunung, pakai topi bir bintang, bawa kamera, ambil kunci motor KLX, dan gooo.!!!. Naik ke puncak segoro gunung.
Letaknya tak jauh dari proyek, sekitar 30 menitan dengan kecepatan 40km/jam, karena tanjakan.
liat ke belakang, mataharinya semakin tenggelam, tambah kecepatan, dan jeng jeng jeng, sampailah saya di puncak bukit dengan tepat waktu.
KLX saya parkirin, cekrek, potret pertama KLX, liat spot lain lagi, geser sana geser sini, cekrek, cekrek, cekrek, puluhan foto saya ambil.
Karena saya berada di ketinggian lebih dari 1000an mdpl, anginnya kerasa, dan saya terduduk kagum, Indah sekali Tuhan.
Saya hampir meneteskan air mata melihat pemandangan sunset yang paling indah selama saya di tempat ini. Biasanya saya hanya melihat sunset dari proyek, cuma karena kebetulan saya sudah eksplore tempat ini, jadi saya putuskan untuk kesini buat melihat sunset kali ini.
Tak banyak orang yang ada disana, 1,2 orang turun membawa pacul dan rumput dari atas, sembari memberikan senyuman ke saya yang parkir di pinggiran sembari menikmati lautan cahaya sunset ini.
Bersyukur, hanya itu yang saya dengungkan saat itu.
Begitu banyak ketidak puasan saya terhadap yang terjadi, tapi Tuhan selalu punya jalan untuk membuat saya bertekuk lutut untuk bersyukur dengan yang ada saat ini.

Bali

Serangkaian perjalanan kami tempuh dari solo, banyuwangi , dan ditutup dengan menyebrang ke Pulau Bali. Bali, pulau dengan identitas yang melekat pada bule-bule mancanegara.
Pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, saya merasakan betul aura budaya yang sangat kuat. Di setiap perlintasan di pinggir jalan, selalu disuguhkan oleh dupa-dupa dan kegiatan sembahyang oleh masyarakat Bali.

Dan yang paling kagumi adalah kota ini banyak sekali bule nya. Khususnya di daerah legian, Bule dimana-mana. Hahahha

Bali, tempat yang sebenarnya tidak begitu saya ingin kunjungi, tapi pada akhirnya saya menginjakkan kaki di tempat ini.  Tujuan saya 1 , ke pagoda bedugul.
Untuk yang lainnya adalah bonus. Hiihihihi.
Dan 3 hari 2 malam kami disana, ternyata menyimpan banyak cerita dan jejak langkah yang kami torehkan.

Puncak Sikunir, Dieng

Dieng, adalah salah satu destinasi yang sangat aku ingin kunjungi sejak jaman kuliah dulu. Dan akhirnya, libur hari raya nyepi tempo hari, dengan tanpa persiapan dan perencanaan yang biasa hanya menjadi wacana, kami berangkat.
Perjalanan dari proyek ditempuh sekitar 6 jam.
Kami berangkat dari jam 22.00 WIB, lewat sragen, bawen, dan sampailah di puncak sikunir.
Suhu nya sendiri menurutku tidak lah sedingin di bromo pas kami kemarin kesana. Mungkin Dikarenakan musim hujan, jadi angin tidak terlalu kencang dan dingin, sekitar 12-13 C.
Fyi, di hari libur cukup banyak wisatawan dalam negeri yang berkunjung, tapi kemarin itu saya tidak melihat sama sekali wisatawan asing disana. Ini penilaian tersendiri buat saya pribadi, kalau tempatnya jarang ada bule, berarti tempat ini kurang dikenal (atau kurang menarik?).
Dari parkiran, kami menaiki anak tangga yang sudah disediakan, waktunya kurang lebih setengah jam . Jadi buat kalian yang mau mendaki tanpa perlu berlelah2 seperti mendaki gunung2 lainnya , ini lah tempatnya, Hehehe.
Sampai di atas, kami menunggu lagi sampai matahari terbit, dan jeng jeng jeng, ternyata awannya enggan bergerak dari atas sana. Wkwkwkkww. Alhasil, golden sun risenya, gak keliatan.
Tapi no problem, kalau buatku pribadi, dalam setiap perjalanan, tujuan akhirnya hanya lah penyumbang 20% kebahagiaan dalam suatu proses. Kenikmatan dan pengalaman di perjalanannya itu sendiri yang selalu ada makna di baliknya.
Jadi buat kalian kalau ingin berkunjung ke suatu tempat, selalu lah tidak mematok hasil harus begini harus begitu, karena tak ada yang bisa tau apa yang terjadi.
Nikmati saja perjalanannya, hirup dan hembuskan dinginnya udara malam yang menusuk tulang. Dengan begitu apapun yang terjadi, perjalanan itu akan sungguh bermakna . Setidaknya itu yang kurasakan.

 

Berbagi

Di proyek , banyak mahasiswa/i dari berbagai universitas yang sedang kerja praktek (KP) atau magang.
Sebagai seorang “mantan” mahasiswa, sering saya ngobrol2 dengan mereka, sedikit banyak seputar dunia kampus.
Saya tak pernah segan untuk berbagi ilmu yang saya ketahui dengan mereka, dan saya pun demikian, sering bertanya apa yang kurang saya mengerti .
Ilmu buat saya adalah segalanya, sebagai seorang akademisi dan profesional, saya sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Saya merasa, berbagi – apalagi ilmu- adalah hal yang patut dilakukan.
Saya suka bingung dengan orang yang begitu sombongnya (atau malas) tidak mau mengajari rekannya yang butuh penjelasan, mungkin takut tersaingi?. Hahaha
Ketika saya menjelaskan apa yang saya kuasai, rasanya ada suatu rasa senang, keikhlasan untuk berbagi yang kita miliki, supaya mereka pun memiliki (atau bisa menjadi lebih) dari kita sendiri.
Mungkin passion saya menjadi pendidik kali ya? 🙂