Mau bangun rumah dimana?

Ini pertanyaan paling memusingkan di hidupku. Wkwkwkw.
Resiko orang proyek yang kerjanya gak pernah menetap dalam waktu yang lama, ya ini. Bingung mau mutusin harus bangun rumah dimana.

Mau “ngeletakin” istri dan anak2 dimana nantinya? , Ahhh pusing.

Puji Tuhan, di umur yang segini aku sudah investasi tanah di tebing tinggi sana, gak luas sih, tapi cukuplah menurutku kalau dibangun rumah yang nyaman.Tapi yang menjadi masalah adalah, benar gak nih tanah kubeli untuk kubangun rumah buat keluarga ku nantinya? … Kayaknya enggak deh. Tapi gak tau deng. Hahahaha.

Akhir-akhir ini aku juga sedang berusaha untuk mandiri dalam penghasilan, dalam artian, mendapat penghasilan diluar penghasilan tetap dalam bekerja . Untuk saat ini aku mendapatkannya dari  – saham – .
Target ku dalam 6 bulan ke depan, pendapatanku dari saham, bisa melebihi pendapatan bersih ku dari kerja di waskita karya.
Ini juga dari hasil hitung-hitunganku untuk mengumpulkan uang buat modal nikah dan bangun rumah nantinya. wikikikikia

Kembali ke pertanyaan awal, aku mau bangun rumah di mana ya kalau uang nya sudah terkumpul?

Mbohhh….

Iklan

Menambang uang dari saham

Happy new year before.. Hellowww ini sudah tanggal 22 kaliii.. Hahahaha.
Ini tulisan pertamaku di tahun 2018. Jadi ya gpp lah ya sedikit telat penyampaiannya.
Ngerasa cepat banget gak sih sudah di ujung bulan januari aja nihh. Padahal baru aja kemarin rasanya merasakan indahnya natal bersama keluarga di rumah.

Skipp. skip…

To the point aja ya.. Di tulisan sebelumnya aku pernah ngebahas belajar saham. Dan sekarang aku sudah mulai memberanikan diri untuk terjun sedikit lebih dalam untuk mencari keuntungan yang lebih.

Kalau sebelumnya aku hanya belajar memahami data-data dan sedikit istilah yang belum kupahami, jadi baru kali ini aja aku trading dengan nilai yang lumayan menurutku.

Pertama yang kupelajari dari memulai bermain saham adalah mengendalikan emosional. Kita harus bisa mengendalikan emosional kita, ketika kita sedang berada di atas (untung) maupun di bawah (rugi). Bagaimanapun disini kita dihadapkan kepada peluang. Tidak ada yang pasti 100%. Kita hanya dihadapkan pada ketidakpastian.
Namun yang saya pelajari adalah, kita bisa meminimalisir peluang kerugian dengan cara berhitung. Istilahnya berhitung secara teknikal dan fundamental.
Untuk lengkapnya kapan2 deh saya ulas apa yang saya ketahui tentang detail2 nya.

Untitled

Di awal-awal trading ini, targetku itu gak terlalu muluk2, sebisa mungkin, setiap harinya aku bisa mendapatkan laba minimal 300rbu. Lumayan kan? Wkwkwkw. Syukur2 bisa laba sampai 1jt, seperti awal2. Hahaha.
Di januari ini target laba ku itu 4 jt. Lumayan kan buat beli martabak. Semoga berhasil ya. Hahaha. Nanti next aku bahas detail2 nya.

Potongan yang hilang

Ada sesuatu yang hilang di dalam diriku. Rasa Syukur yang dulu begitu besar, tergerus perlahan. Hanya karena beberapa huruf “Pengakuan”.
Aku seperti kura-kura yang terbalik dari cangkangnya, yang sedang butuh bantuan dari luar untuk kembali membalikkan tubuhku untuk kembali bisa merangkak berjalan. Meskipun pelan, tapi berjalan.
Aku butuh kerendahan hati, yang dulu begitu besar, sekarang tergerus perlahan, yang entah mengapa, tak dapat kubendung.

Potongan itu, aku membutuhkannya.

Keluar dari bayang-bayang

Aku kesulitan keluar dari lingkarang. Lingkaran bayang-bayang
Ku sadari bahwa manusia hidup dalam bayangan penilaian, penilaian manusia sekitar yang menjadikannya relatif baik ataukah relatif buruk. Baik dan buruk sangat imajiner. Ada penilaian “Agak” di dalamnya. Tak habis-habis.
Lantas aku bertanya? Kenapa kita hidup di dalam bayang-bayang itu?
Ahh, aku sakit kepala memikirkannya. Lebih baik aku mengemut mentos yang ada di depanku saja. 🙂

Ulang Tahun di Atas Gunung

Weekend lalu saya memutuskan untuk merayakan ulang tahun saya ke 25 di puncak gunung. Puncak ijen di Banyuwangi menjadi pilihan. Saya mendaki pukul 01.30 WIB dengan suhu 8 C. Yang saya perhatikan, 80% pendaki ternyata berasal dari turis mancanegara. Saya sungguh kagum dengan mereka yang bisa tahu tempat-tempat eksotis di indonesia ini. Bahkan mereka duluan merasakan indahnya indonesia dibandingkan dengan saya yang sudah tinggal di negara ini.

Setelah sekitar 3 jam mendaki, sampailah di kawah gunung ijen, takjub, itu yang pertama kali saya rasakan ketika melihat BLUE FIRE yang menyembur dari balik bebatuan belerang di kawah yang masih aktif itu. Bersanding dengan warna kuning kabut belerang, api biru itu menyala-nyala. Aku yang hanya punya kamera yang standard sungguh tak mampu mengabadikan fenomena yang konon katanya cuma ada 2 di dunia. Ratusan foto jeprat jepret, dengan mencoba sana sini. Hahahaha.
Matahari semakin menanjak, saya semakin merinding dengan pemandangan kawah cyano yang perlahan ditampilkan gunung ini. Woaaaaaaaaaaa….. saya terkagum-kagum dengan kado terindah dari Tuhan saat ulang tahun saya itu.
Kembali jepret jepret sana sini sampai memori habis. Pokoknya ini kado yang tak ternilai yang pernah saya rasakan seumur hidup saya.
Tak habis kekaguman saya, ketika kembali naik dari kawah menuju puncak, ternyata pemandangannya jauh lebih dahsyat lagi. Semilir angin dan penampakan dari gunung di sekitarnya membuat mata ini tak mampu lagi menangkap sesuatu yang lebih indah dari ini. Keindahan maksimal, itu yang saya rasakan.
Terima kasih Tuhan, dalam hati selalu saya gumamkan saat itu. Lelah di Kereta api selama 12 jam, dan mendaki selama 3 jam, tak mampu mengalahkan ketakjuban luar biasa yang diberikan Tuhan kepadaku.
Di dalam hati saya, saya hanya ingin lebih bersyukur atas semua yang saya terima di dalam hidup ini. Begitu banyak, yaaa, begitu sempurnanya Tuhan menitiskan perjalanan di tiap individu Nya. Tinggal seberapa dekat kita menyadarinya. Seberapa mendasar kita bersyukur untuk semuanya.

Gondang, 16 November 2017.

Blue Fire Ijen CraterVolcano Ijen CraterMiner Ijen CraterThe Peak of Ijen Crater

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup!!!

“Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.
Jadi, waktu berputar kapan saja. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup.
Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka,
tetapi karena siapakah diri kita sendiri. Kita mungkin berkuasa, tapi waktu lebih berkuasa daripada kita…..
Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api dapat
membakar jutaan pohon. Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif…
Milikilah pemikiran yg positif kepada siapapun, karena sedikit saja pikiran negatif, ??
itu akan menjadi pemicu untuk merusak segalanya…”