Steve Jobs

Saya selalu kagum dengan sosok yang satu ini. Kebetulan saya punya buku biografinya yang ditulis Walter Issacson. Banyak hal yang merupakan pribadi Steve terkuak disana.
Kejeniusan, kemampuan untuk menatap masa depan dengan penuh semagat dan inovasi, perfeksionisme, distorsi lapangan yang menjadi sifatnya sangat kental digambarkan dibuku ini.
Ketidakpeduliannya akan perasaan orang manakala ia melihat produk yang dihasilkan jelek. Dia tidak akan segan-segan mengatakan bahwa itu sampah, dan mencela orang itu dengan sebutan-sebutan kasar. Memang bisa saya bayangkan bagaimana ngerinya dia memimpin orang-orang. Mustahil menurut saya teman-temanya orang-orang biasa, semuanya pasti orang-orang luar biasa yang terbaik di dunia.
Tetapi dengan sikap yang seperti itu lihatlah dunia sekrang yang jauh lebih baik dengan produk-produk dengan teknologi canggih : Imac, Ipod, Iphone, Ipad. Semua adalah kontribusi Steve job yang telah membuat perusahaan yang bernama Apple Yang menjadi pencipta semua benda-benda tersebut.
Saya sangat ingin mempunyai Ipad, tapi mungkin belum saatnya mengingat saya masih mahasiswa yang mendapat asupan dari orang tua, tapi suatu saat saya pasti saya akan mempunyai benda itu. Saya ingin sekali Menyentuh Perismpangan Teknologi dan Seni yang dipelopori oleh Penciptanya Steve Jobs.
Tidak bisa saya bayangkan bagaimana buruknya teknologi saat ini jika tidak ada steve job. Mungkin tidak akan ada seni di dalam teknologi itu sendiri yang membuatnya hanya sebagai “sampah” kata steve. Hehehe.
Di akhir kehidupannya dia menulis sesuatu yang cukup menyentuh menurut saya : He admitted that, as he faced death, he might be overestimating the odds out of a desire to believe in an afterlife. “I like to think that something
survives after you die,” he said. “It’s strange to think that you accumulate all this experience, and maybe a little wisdom, and it just goes away. So I
really want to believe that something survives, that maybe your consciousness endures.”
He fell silent for a very long time. “But on the other hand, perhaps it’s like an on-off switch,” he said. “Click! And you’re gone.”
Then he paused again and smiled slightly. “Maybe that’s why I never liked to put on-off switches on Apple devices.”

Terjemahannya mungkin kira-kira seperti ini : “Aku senang membayangkan bahwa ada yang hidup setelah kita mati. Agak aneh rasanya kita menyimpan semua pengalaman ini, mungkin berikut sedikit kebijaksanaan, dan hal-hal tersebut kemudian pergi. Jadi, aku benar-benar ingin percaya bahwa sesuatu akan tetap hidup, dan mungkin itulah kesadaran yang tersisa.
Dia membisu untuk beberapa saat , “Namun sebaliknya mungkin kematian seperti tombol on atau Off, Klik dan akhirnya kau akan pergi untuk selamanya.
Dia terdiam lagi dan senyumnya sedikit mengembang. ” Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah meletakkan tombol On atau Off pada peranti Apple”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s