Berpikir Bukan Menghapal

di Tv one ada berita tentang anak yang mengumpulkan coin untuk sekolah. Namaya Jasmine, umurnya 8 tahun, keturunan campuran. Salut sekali melihat bagaimana tindakannya yang masih sekecil itu.
Dikatakan bahwa perbedaan kita dengan dia adalah kebanyakan kita semasa kecil diajarkan untuk menghapal bukan berpikir, sementara dia yang mungkin disekolahkan oleh orang tuanya di tempat yang bagus, di didik untuk berpikir dalam mendapatkan jawaban. Why??. itu adalah pertanyaan yang seharusnya sering dikatakan di masa-masa kita di bangku sekolah. Sehingga ketika kita turun ke lapangan, kita akan selalu menjejali keingin tahuan kita yang bisa membawa kita untuk mencari jawaban-jawaban atas permasalahan yang ada.

Kita bandingkan pendidikan kita dengan australia, DI australia hanya ada 5 kurikulum untuk SD, sedangkan kita ada 16. Bagaimana anak-anak indonesia dapat mencerna sebanyak itu ??
Kita hanya menjadi orang yang hebat untuk beberapa, bukan untuk semua hal kita bisa hebat.
Orang-orang yang berpikir itu selalu mengajak anaknya untuk bertanya what do you think? jadi anaknya diajak untuk mengeluarkan dan berpikir tentang pendapatnya.
Kurikulum yang  kita pelajari seharusnya itu tidak selalu sama seperti apa yang dipelajari oleh nenek moyang kita, karena ada yang jauh lebih penting di dalam kehidupan kita ini, yakni kemanusiaan. Hapalan is Damned.
Dikatakan dalam wawancara itu, bahwa, konon Di inggris, ketika anak-anak di sekolah dan tiba-tiba ada gunung meletus di Brasil, maka gurunya akan menghentikan pelajaran dan mengajak anak muridnya untuk mendiskusikan, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?
Kita harus banyak membantu. kita harus membantu, berbagi apa saja yang kita punya adalah keharusan yang kita lakukan.
dan wowww…tiba-tiba ada seorang pengusaha yang memberikan bantuan berupa beasiswa untuk sekolah sampai lulus kuliah, dan tempat kerjanya disiapkan untuk seorang anak yang bernama siti yang dihadirkan TV one. Siti adalah seorang anak sekitar berumur 7 tahunan yang menjadi penjual bakso. Anak sekecil itu sudah merasakan sakitnya kehidupan, padahal dia harusnya bersekolah dan bermain dengan teman-teman seumurannya.
Wahhh..Hamkah namanya. He is amazing, mau ,melakukan hal itu, di tengah banyaknya orang yang mengeluhkan naiknya harga BBM.
Semoga kita bisa lebih peduli tentang keadaan sekitar kita yang membutuhkan banyak bantuan. Dan semoga kurikulum kita diajarkan tidak lagi untuk menghapal namun berpikir.  Untuk Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s