Menerima Tanpa Syarat

Kebutuhan manusia yang paling dasar adalah diterima dan dihargai oleh sekelilingnya. Tapi walaupun sungguh memberikan semangat jiwa kalau diterima, seringkali sulit  bagi kita untuk menerima orang lain tanpa syarat. Menerima orang tanpa syarat artinya kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, terlepas dari dampak sukses mereka terhadap diri kita. Kita tidak boleh menghakimi, tidak boleh berprasangka dan tidak boleh menuntut bukti atau prestasi tertentu sebagai syarat untuk mempertahankan penghargaan kita terhadap mereka. Kita terima mereka bukan karena prestasi mereka, atau apa yang dapat mereka perbuat untuk kita, melainkan karena harga diri mereka yang hakiki sebagai manusia.
Berikut salah satu kisah yang saya kutip dari sebuah buku, bercerita tentang seorang ayah menangani anak bayinya yang bungsu.

Suatu malam di rumah, saya mendapatkan pengalaman yang meningkatkan pemahaman saya akan sikap menerima. Anak saya yang bungsu terjaga dan menangis. Isteri saya sedang sakit, maka saya terpaksa turun dari tempat tidur dan mengatasi sendiri masalahnya. Saya bayangkan diri saya salah seorang pria yang menggantikan popok bayi serta membersihkan jendela, maka saya pikir saya bisa melakukannya. Ketika itu kira-kira pukul 2 subuh – semuanya masih tidur kecuali bayi kami yang mengangis. Karena agak grogi saya berharap-harap cemas untuk menghentikan tangisnya sesegera mungkin lalu kembali tidur. Pikiran pertama saya adalah melakukan sesuatu. Menepuk-nepuknya, memberinya minum, atau menyelimutinya- apapun yang perlu dilakukan untuk membuatnya diam. Sepuluh menit kemudian ia masih juga menangis, malah lebih keras. Tak satupun yang saya lakukan ketika itu efektif. Pada saat itu saya sudah benar-benar terjaga dan bertekad untuk menghentikan suaranya dan kembali tidur. Saya frustasi, perlahan-lahan naik lagi ke kamar bayi, mengakui kegagalan saya sebagai ayak yang menghibur. Maksud saya, kalau seorang psikolog pendidikan dengan gelr Ph.D dalam bidang pembelajaran  tidak bisa menghentikan ledakan perilaku sederhana seperti menangis, siapa lagi yang bisa?.
Sementara saya tutup pintu kamar bayinya dan memadamkan lampunya, ternyata saya gendong bayi saya dalam selimutnya yang halus, sambil menggoyangkannya di sebelah tempat tidurnya. Ternyata tangisnya mulai mereda. Semua alternatif lain sudah saya coba – dan ia sendiri kelelahan. Tak ada lagi yang bisa saya coba.Mengalihkan perhatiannya tidak berhasil. Mengancamnya tidak berhasil. Menjelaskannya apa lagi. Malah, akhirnya terpikirkan oleh saya tak satupun yang saya ucapkan dan lakukan, membuat perbedaan sama sekali. Dengan perasaan konyol, saya ucapkan, “Kalau begitu Ayah akan berdiri saja disni menggendong kami.”
Bisa anda bayangkan terkejutnya saya ketika beberapa menit kemudian ia tidur dalam gendongan saya. Apa sih yang membuat muzijat ini? Bukan ucapan saya, bukan tindakan saya, saya malah menyerah dan berada bersamanya. Tidak lebih. Dan entah bagaimana otak dan hatinya yang baru delapan belas bulan itu merasakannya, dan itu sudah cukup. Yang membuat perbedaan adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Yaitu berhenti mencoba melakukan sama sekali. Pelajaran bagi saya ketika saya renungkan kembali kejadian itu esok paginya, sungguh mendalam. Dengan seorang anak yang baru belajar berjalan, semua peralatan yang biasanya saya gunakan dengan para klien menjadi percuma. Kata-kata, konsep teladan, penggunaan perumpamaan dan analogi, semuanya percuma. Ketika sudah tidak ada lagi senjata, saya hanya dapat menerimanya tanpa syarat, tanpa maksud tersembunyi, dan sikap menerima yang terwujud dalam kesediaan saya untuk berada bersamanya itulah yang dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s