Menerima orang lain apa adanya

Sedikit bercerita tentang diri saya, bahwa saya dulunya merasa kalau saya itu adalah orang yang egois, tak terlalu mempedulikan (pendapat/perasaan/keinginan) orang lain di sekeliling saya, yang saya prioritaskan adalah benefit apa yang saya dapatkan. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai belajar-walau belum sepenuhnya- bahwa setiap orang itu emang dilahirkan unik. Kita tidak bisa sepenuhnya bisa menerima apa yang kita harapkan itu dilakukan orang lain untuk kita. Contoh kasus sederhana adalah pacaran. Walau saya tak terlalu ahli di bidang ini, saya hanya sering mengamati bahwa di satu sisi setiap personal ingin pasangannya bisa menjadi apa yang diinginkannya, tapi sering kali ujung-ujungnya itu menjadi boomerang untuk hubungan mereka. Memang saya akui, sangat sulit menerima orang lain apa adanya, termasuk pendamping yang kita inginkan. Salah satu solusinya menurut saya mungkin adalah dengan sedikit kerendahan hati untuk menghargai suatu sifat yang dimilikinya, kalau suatu kelakuan/sifatnya itu memang  menyakitkan buat kita, mungkin tidak salah mengatakan kepada dia bahwa seharusnya dia berkelakuan/bersikap lebih baik. Kalau sama-sama sayang dan mengerti, pasti keduanya bisa menerima.
Keinginan dasar manusia itu memang diterima dan dicintai oleh sekelilingnya, apalagi untuk orang yang kita cintai, terkadang kita pasti ingin dia juga mencintai kita. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai belajar bahwa kita tidak bisa memaksakan orang yang kita cintai harus mencintai kita seperti kita mencintainya. Kalau kita mencintainya dengan tulus, kita akan biarkan dia menjadi dirinya seperti yang dia inginkan, kita inginkan kebahagiaannya. Hal terindah adalah mendengarnya bahwa dia sangat bahagia akan hari-hari yang dilewatinya. Bahkan ketika dia mencintai orang lain, bukan kita. Cinta yang tulus datang dari hati, menerima tanpa syarat.

One thought on “Menerima orang lain apa adanya

  1. menerima “apa adanya” atau mencintai tanpa syarat itulah yang berat. kalau kita siap mencintai, maka kita pun harus siap untuk disakiti. Entah itu untuk yg masih pacaran atau yg sudah menikah🙂 Salam kenal ya. Tulisannya bagus-bagus. Keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s